Akademik, Berita Terbaru|

MOJOKERTO, BIDIK – IKHAC menggelar International Scholarship Workshop and Seminar dengan Choayang University of Technology (CYUT) – Taiwan di Guest House, Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) pada Jum’at (10/11).

Seminar ini bertema “The Urgency of Mastering English for Asian Students” yang diisi langsung oleh Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., (IKHAC-Indonesia), Andre So, BA, MM (CYUT – Taiwan) dan Sylvia Huang, M.Sc., (CYUT – Taiwan).

Hadir pada acara seminar, Pak huda selaku Ketua Pusat Bahasa (PUSBA) Inggris IKHAC menyampaikan terkait pembahasan MOU didalam seminar internasional.

“Terkait dengan konten pembicaraannya yang jelas mereka ingin tahu tentang kampus IKHAC juga akan melakukan MOU tentang action student atau mahasiswa Taiwan bisa kuliah di IKHAC dan Mahasiswa IKHAC bisa kuliah di Taiwan. Mungkin bisa shortcourse dua tahun di sana dua tahun di sini, jadi nanti bisa mendapatkan dua ijazah,” ujar pak huda saat diwawancarai, Sabtu (11/11).

Lebih lanjut, beliau menyampaikan rencana MOU IKHAC ke CYUT – Taiwan.

“Saya juga kemarin diundang dan diutus pak kiai menembus kesana insyaallah akhir bulan ini, untuk memastikan bahwa proses seperti apa kerjasama kita dengan CYUT – Taiwan,” ungkapnya.

Disamping itu juga beliau menyampaikan misi dari pusat bahasa sesuai dengan tema seminar tersebut.

“Misi dari pusat bahasa yakni The Urgency of Mastering English for Asian Students. Ditekankan betul bahwa seorang mahasiswa khususnya mahasiswa ASIA tidak boleh memiliki inferior atau perasaan tidak bisa memiliki keampuan bahasa asing, karena bagaimanapun dunia internasioanal akan memandang kita kepada kebahasa inggrisan dan bahasa mandarin yang tentunya diterapkan di negara Cina,” jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, beliau menyampaikan apa yang disampaikan Kiai Asep ketika seminar tersebut.

“Ada hal besar yang disampaikan oleh Yai Asep melalui aksi beliau dengan melakukan pidato bahasa inggris, agar seluruh civitas khususnya mahasiswa itu memiliki kemampuan yang diharapkan Yai Asep yakni dengan adanya mata kuliah bahas arab dan bahasa inggris, setidaknya mampu secara berkomunikasi. Event-event seperti ini bertujun ingin atmosfer intelektual, atmosfer orasi ilmiah yang dilakukan setiap bulan. Ini diupayakan dan ini simultan sehingga terbawa hanyut mahasiswa itu dalam suasana keilmiahan atau pembicaraan yang berbau ilmiah dengan muatan bahasa asing,” pungkasnya. (tia)

MOJOKERTO, BIDIK – IKHAC menggelar International Scholarship Workshop and Seminar dengan Choayang University of Technology (CYUT) – Taiwan di Guest House, Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) pada Jum’at (10/11).

Seminar ini bertema “The Urgency of Mastering English for Asian Students” yang diisi langsung oleh Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., (IKHAC-Indonesia), Andre So, BA, MM (CYUT – Taiwan) dan Sylvia Huang, M.Sc., (CYUT – Taiwan).

Hadir pada acara seminar, Pak huda selaku Ketua Pusat Bahasa (PUSBA) Inggris IKHAC menyampaikan terkait pembahasan MOU didalam seminar internasional.

“Terkait dengan konten pembicaraannya yang jelas mereka ingin tahu tentang kampus IKHAC juga akan melakukan MOU tentang action student atau mahasiswa Taiwan bisa kuliah di IKHAC dan Mahasiswa IKHAC bisa kuliah di Taiwan. Mungkin bisa shortcourse dua tahun di sana dua tahun di sini, jadi nanti bisa mendapatkan dua ijazah,” ujar pak huda saat diwawancarai, Sabtu (11/11).

Lebih lanjut, beliau menyampaikan rencana MOU IKHAC ke CYUT – Taiwan.

“Saya juga kemarin diundang dan diutus pak kiai menembus kesana insyaallah akhir bulan ini, untuk memastikan bahwa proses seperti apa kerjasama kita dengan CYUT – Taiwan,” ungkapnya.

Disamping itu juga beliau menyampaikan misi dari pusat bahasa sesuai dengan tema seminar tersebut.

“Misi dari pusat bahasa yakni The Urgency of Mastering English for Asian Students. Ditekankan betul bahwa seorang mahasiswa khususnya mahasiswa ASIA tidak boleh memiliki inferior atau perasaan tidak bisa memiliki keampuan bahasa asing, karena bagaimanapun dunia internasioanal akan memandang kita kepada kebahasa inggrisan dan bahasa mandarin yang tentunya diterapkan di negara Cina,” jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, beliau menyampaikan apa yang disampaikan Kiai Asep ketika seminar tersebut.

“Ada hal besar yang disampaikan oleh Yai Asep melalui aksi beliau dengan melakukan pidato bahasa inggris, agar seluruh civitas khususnya mahasiswa itu memiliki kemampuan yang diharapkan Yai Asep yakni dengan adanya mata kuliah bahas arab dan bahasa inggris, setidaknya mampu secara berkomunikasi. Event-event seperti ini bertujun ingin atmosfer intelektual, atmosfer orasi ilmiah yang dilakukan setiap bulan. Ini diupayakan dan ini simultan sehingga terbawa hanyut mahasiswa itu dalam suasana keilmiahan atau pembicaraan yang berbau ilmiah dengan muatan bahasa asing,” pungkasnya. (tia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window