Akademik|

MOJOKERTO, BIDIK – Lembaga Pendidikan dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) mengadakan Workshop Penelitian di Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) dengan tema “Peningkatan Kualitas Penelitian Perguruan Tinggi”. Acara ini digelar di Aula Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim, Sabtu (18/03/2003).

Workshop Desain Penelitian tersebut dibuka langsung oleh Prof. Dr. KH Asep Saefuddin Chalim selaku pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah. Acara tersebut mendatangkan Narasumber Profesional, yaitu Prof. Dr. Muhammad Murtadlo M.Ag sebagai Peneliti Ahli LITBANG, KEMENAG yang ada di lingkungan IKHAC dan dihadiri oleh Kaprodi, para-Dosen dan para-Staff yang ada di Pesantren KH. Abdul Chalim.

Potret para dosen yang menghadiri workshop (Tim BIDIK)

Acara tersebut bertujuan untuk membentuk budaya riset kepada seluruh dosen, dan kemudian hal ini juga yang akan diaplikasikan seperti yang dikemukakan M. Thoha selaku ketua LPPM kepada seluruh Mahasiswa nantinya.

“Para dosen telah menyepakati bahwa dimulai tahun ajaran ini seluruh Mahasiswa yang akan mengambil Ijazahnya diharuskan untuk mempublish artikel atau karya ilmiahnya,” ujar Thoha.

Prof. Dr. Muhammad Murtadlo, M.Ag memaparkan kesan setelah menjadi pemateri di acara Workshop kali ini.

“Saya melihat antusias para peserta Dosen yang semangat, dan saya berharap memang disini nanti terbangun tradisi ilmiah yang bagus, sehingga nanti Perguruan Tinggi ini yang nantinya akan menjadi Universitas itu bisa menjadi pusat produksi keilmuan. Tidak hanya istilahnya yang penting Mahasiswa banyak, tapi justru melahirkan keilmuan itu meningkat,” paparnya.

Literasi saintifik yaitu literasi untuk bersikap ilmiah, berkarya ilmiah itu harus menjadi tugas penting bagi para dosen atau pengajar. Jadi bukan hanya mengajarkan ke anak tetapi ia mampu memreproduksi ilmu. Reproduksi itu bukan hanya mentrasfer ilmu tapi mengkayakan ilmu. Nah itu yang menjadi PR besar bagi pendidik di Indonesia. Bagaimana memajukan ilmu pengetahuan itu.

“Harapan saya, kita harus membangun pertama Budaya Ilmiah, yang kedua Karya Ilmiah. Jadi Budaya Ilmiah itu hal-hal yang mendukung lahirnya proses kerja-kerja ilmiah itu, produksi ilmiah itu. Tapi kalau Karya Ilmiah Kemauan untuk menghasilkan sesuatu yang masuk kategori karya-karya ilmiah itu. Budaya ilmiah itu misalnya tentang semangat diskusi yang terbuka, kemudian ada ketersediaan media publikasi, ada perpustakaan yang memadai, ada diskusi-diskusi secara ilmiah. Tapi kemauan berkarya ilmiah itu ada kemampuan menulis di jurnal atau buku ilmiah. Dua hal itu yang harus dibangun untuk membangun bahwa sebuah perguruan tinggi itu tidak seperti hanya schooling hanya mengajarkan ilmu dari guru ke murid tetapi sebuah Perguruan Tinggi itu menjadi Pusat referensi ilmu pengetahuan nantinya. Karena itu harus dibuktikan dengan karya-karya para dosennya, itu menghasilkan pemikiran atau karya-karya ilmiah yang layak menjadi referensi,” tuturnya. (adl/isn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close Search Window